SMARATUNGGA

Historis, filosofis dan Perkembangannya dalam dunia Pendidikan

Bhikkhu Ditthisampanno[1]

 

Historical Background

Smaratungga berasal dari nama salah satu raja dinasti syailendra “samarattungga” atau samarottungga. Secara harafiah nama smaratungga berarti “samara” api gunung, “tongga” semangat.

Nama Samaratungga terdapat dalam prasasti Kayumwungan atau prasasti Karangtengah yang dikeluarkan pada tanggal 26 Mei 824. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa, Samaratungga memiliki seorang putri bernama Pramodawardhani yang meresmikan sebuah jinalaya yang sangat indah. Prasasti ini dianggap berhubungan dengan pembangunan Candi Borobudur.

Prasasti Kayumwungan terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berbahasa Sanskerta sebagaimana disinggung di atas, sedangkan bagian kedua berbahasa Jawa Kuno yang dikeluarkan oleh Rakai Patapan Mpu Palar. Disebutkan, tokoh Mpu Palar menghadiahkan beberapa desa sebagai sima swatantra untuk ikut serta merawat candi Jinalaya tersebut.

Sri Maharaja Samarottungga, atau kadang ditulis Samaratungga, adalah raja Kerajaan Medang dari Wangsa Syailendra yang memerintah pada tahun 792 – 835. Tidak seperti pendahulunya yang ekspansionis, pada masa pemerintahannya, Smaratungga lebih mengedepankan pengembangan agama dan budaya. Pada tahun 825, dia menyelesaikan pembangunan candi Borobudur yang menjadi kebanggaan Indonesia. Untuk memperkuat aliansi antara wangsa Syailendra dengan penguasa Sriwijaya terdahulu, Samaratungga menikahi Dewi Tara, putri Dharmasetu. Dari pernikahan itu Samaratungga memiliki seorang putra pewaris tahta, Balaputradewa, dan Pramodhawardhani yang menikah dengan Rakai Pikatan, putra Sri Maharaja Rakai Garung, raja kelima Kerajaan Medang.

Arti nama Smaratungga[2]

Samaratungga dalam bahasa Karakteristik artinya Nama raja dari kerajaan wangsa Syailendra. Samaratungga melambangkan pesona dan kharisma. Ia adalah seorang yang glamor dan ingin menjadi pusat perhatian. Ia mengutarakan gagasan dan acara, serta bekerja keras untuk mewujudkannya. Ia adalah seorang yang perasa, pemimpi, tulus, semangat, dan mudah jatuh cinta. Orang seperti ini akan menjadi politisi, aktor atau model profesional yang hebat.

Nama "Samaratungga" memang tidak mencerminkan kualitas pribadinya, namun memiliki nama yang bagus akan membantu seseorang menjadi lebih percaya diri, dan lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang positif, serta selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat untuk banyak orang.

Kepribadian nama Samaratungga dalam numerologi

Nama "Samaratungga" mempunyai jumlah angka: S = 19; A = 1; M = 13; A = 1; R = 18; A = 1; T = 20; U = 21; N = 14, G = 7, G = 7, A = 1
Jumlah angka untuk nama "Samaratungga" adalah 123.

Menurut studi numerologi, nama "Samaratungga" mempunyai kepribadian Bertanggung jawab, melindungi, merawat, bermasyarakat, seimbang, simpatik.

Pendirian Perguruan Smaratungga

Pada akhir 70an di awal 80an, pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa Pendidikan Agama dijadikan salah satu mata pelajaran pada sekolah umum mulai Pendidikan dasar, menengah dan Pendidikan tinggi. Hal ini memberikan inspirasi bagi para pandita dan dharmaduta di Vihara Mahabodhi[3] dengan gerakan “Buddha Kampungan” didukung oleh Sangha, mendirikan Pendidikan Keguruan untuk mendidik Muda-Mudi Buddhis menjadi Pendidik atau guru agama Buddha memenuhi kebutuhan Pendidikan keagamaan di Sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Hal ini terwujud dengan didirikannya Yayasan Sariputra Sadono[4], yang menyelenggarakan Pendidikan Guru Agama Buddha (PGAB) Smaratungga, pada tahun 1983 membuka kelas pertamanya di Boyolali. PGA Samaratungga merupakan cikal bakal berdirinya Perguruan Tinggi Agama Buddha Samaratungga.

Pada tanggal 1 September 1986 didirikan Akademi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (AKIP) Smaratungga berlaku untuk waktu tak terbatas. Dengan surat keputusan Yayasan Sariputra Sadono Boyolali Nomor:YY/PS/064/1986 tanggal 20 Agustus 1986 (Lampiran 1.1.a). AKIP Smaratungga diubah menjadi Institut Ilmu Agama Buddha (IIAB) Smaratungga dengan Surat Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha No. H/15/SK/1989 tanggal 27 Juli 1989 (Lampiran 1.1.b). Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 1999 Institut Ilmu Agama Buddha Smaratungga berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga dengan Surat Keputusan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha No. H/02/SK/2002 tanggal 2 Januari 2002 (Lampiran 1.1.c). Dan diperbarui dengan SK DIRJEN BIMAS BUDDHA No. DJ.VI/18a/SK/2008 tertanggal 20 Februari 2008 (Lampiran 1.1.d). Meskipun secara formal nama STIAB Smaratungga ditetapkan pada tanggal 2 Januari 2002, hari lahir (dies natalis) STIAB Smaratungga memakai tanggal kelahiran AKIP Smaratungga, yakni 1 September 1986. Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha merupakan penyelenggara program pendidikan sarjana Agama Buddha Agama Buddha di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga (STIAB Smaratungga) Boyolali dengan SK Dirjen Bimas Hindu dan Buddha No. H/15/SK/1989 dan SK izin operasional nomor No 365 Tahun 2013.

Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan di dunia pendidikan dan masyarakat, pada tahun 2011 STIAB Smaratungga menyelenggarakan program pascasarjana (PPs) / program studi magister Dharma Achariya dengan SK DIRJEN BIMAS BUDDHA Nomor 409 Tahun 2011 Tertanggal 2 November 2011 tentang Penyelenggaraan Program Studi Magister Dharma Achariya (Magister Pendidikan Agama Buddha).

STIAB Smaratungga memiliki dua program studi, yaitu: (1) program sarjana (S1) Pendidikan Keagamaan Buddha (Pendidikan Agama Buddha) dan (2) program magister (S2) Pendidikan Keagamaan Buddha (Pendidikan Agama Buddha). Pada tahun 2019 berdasarkan SK Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha No. 86. Tahun 2019 tertanggal 15 April 2019 tentang Perubahan nama program Studi pada Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha dibawah binaan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, sekarang menjadi Program Studi pendidikan Keagamaan Buddha (S1) dan Program Studi pendidikan Keagamaan Buddha (S2).

Penutup

Smaratungga adalah sebuah keniscayaan untuk terwujudnya pribadi yang Bertanggung jawab, melindungi, merawat, bermasyarakat, seimbang, simpatik, lebih percaya diri, dan lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang positif, serta selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat untuk banyak orang, melambangkan pesona dan kharisma.

Hal ini diharapkan sebagai sebuah spirit bagi seluruh civitas akademika Perguruan Tinggi Smaratungga dalam mengembangkan Pendidikan serta mengisi berbagai sektor pengembangan kebudayaan serta kebuddhaan yang inklusif, estetik, dan berkebangsaan.

 

Refferensi

Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka

Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. hlm. pages 171. ISBN 981-4155-67-5.

Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Slamet Muljana. 2006. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). Yogyakarta: LKIS

https://namamia.com/arti-nama/samaratungga.html diakses pada 6 Agustus 2021

 

 

 

 

[1] Dosen STIAB Smaratungga dan Dosen Luar Biasa di UNDIP, Ph.D Buddhist Studies pada Mahaculalongkornrajavidyalaya University, Thailand, Ketua STIAB Smaratungga 2013 – Sekarang, Ketua APTABI (Asosiasi Perguruan Tinggi Agama Buddha Indonesia), EXCO Member IABU (International Association of Buddhist Universities), Asst. Secretary, International Association of Theravada Buddhist Universities (IATBU), dan Badan Pengawas BKPBI (Badan Koordinasi Pendidikan Buddhis Indonesia).

[2] https://namamia.com/arti-nama/samaratungga.html

[3] Romo Sumananda Jasmin, Romo Tjay, Romo Sariputra Sadono, Romo Aryananda Soenarko, Romo Hadi S. Bodhiphala, Romo Soepono, Romo Adhidharma dan beberapa tokoh lainnya.

[4] Wujud kerjasama dengan tokoh-tokoh Agama Buddha Boyolali, seperti Bp. Drs. Sutomo, Bp. Darto, Ibu Partini, Bp. Drs. A. Joko Wuryanto (pada tahun 2000an menjadi Dirjen Bimas Buddha pada Kementerian Agama RI)

Share: