Sasaran pembangunan dan pendidikan pada dasarnya adalah manusia (Sivaraksa, 2001:50). Pendidikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan bermaksud membantu anak didik menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaanya. Pendidikan yang tidak berorientasi pada pemahaman yang jelas mengenai manusia dengan berbagai potensi unik dan kelemahanya akan menciptakan pembentukan karakter yang tidak membangun.

Tugas mendidik hanya bisa dilakukan dengan benar dan tepat, jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang manusia. Manusia mempunyai ciri khas yang secara prinsip berbeda dengan hewan. Ciri khas manusia yang membedakan dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu (integrated) dari apa yang disebut sifat hakikat manusia (Tirtarahardja, 2005:1). Pemahaman pendidik terhadap sifat hakikat manusia akan membentuk peta tentang tentang karakter manusia. Peta akan digunakan sebagai landasan atau acuan dalam menyusun strategi, metode, teknik’ serta memilih pendekatan  dan orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif. Penggunaan peta acuan secara optimal akan membentengi pendidik untuk tidak mudah terkecoh ke dalam bentuk transaksional yang patologis dan berakibat merugikan subjek didik. 

Kepribadian anak didik sebagai subjek pendidikan bila ditangani secara salah tidak akan berkembang secara optimal tetapi justru berdampak pada hilangnya potensi-potensi yang dimiliki. Keraguan mengenai pendidikan khususnya pendidikan sekolah sebagai faktor pendukung perkembangan kepribadian bermunculan di masyarakat akademik. Pakar pendidikan Ivan Illich dalam (Sindhunata, 2000:9) secara tegas menyatakan keraguanya mengenai sistem pendidikan sekolah karena melihat output yang dihasilkan tidak mampu untuk hidup secara nyata dalam masyarakat karena perkembangan kepribadianya yang tidak optimal.

Pakar pendidikan dari Prancis Roger Fauroux dalam penelitianya menyatakan bahwa guru sebagai bagian tak terpisahkan dalam pendidikan memberikan pengaruh yang besar terhadap kemunduran pendidikan (Fauroux, 1997:3). Guru kebanyakan mempertahankan konservatisme pendidikan. Sejalan dengan penelitian Fauroux guru di Indonesia pada umumnya adalah “pegawai pendidikan” yang berorientasi pada kepentingan ekonomi sehingga visi dan misi pendidikan akan banyak dikalahkan oleh faktor pemenuhan kebutuhan hidup. Guru sebagai pegawai pendidikan tidak memiliki mental pembelajar sehingga sekolah mempunyai kewajiban untuk melakukan empowerment terhadap guru yang ada.

Melihat realita historis, sistem pengembangan kepribadian melalui pendidikan mengalami perubahan yang radikal. Perkembangan kepribadian tidak akan optimal hanya dengan “pengajaran” dari sistem klasik tetapi harus sampai pada taraf “pengalaman”. Untuk megetahui sesuatu berarti masuk dan berpartisipasi di dalamnya, mengakrabkan diri denganya sehingga mampu mengalami sebagai dasar dari perkembangan pengetahuan (Boehme, 2000:38). Konsep ilmu pendidikan klasik yang masih banyak berkembang di Indonesia bertolak pada pengandaian konsep pedagogi deduktif, guru bertugas mengantarkan pengetahuan untuk siswa (Sindhunata, 2000:11-12). Sistem transfer pengetahuan yang dilakukan pada umumnya tidak memperhatikan karakteristik dan watak anak didik.

Perkembangan kepribadian siswa akan optimal jika guru bukan hanya sebagai pengantar pengetahuan tetapi bertugas merangsang perkembangan bakat siswa, membangkitkan kemampuan mengerti, menilai, menyimpulkan, mengembangkan fantasi, empati serta berbagai potensi positif yang ada.

Solusi mengenai permasalahan sistem dan teknik perkembangan kepribadian anak didik agar mencapai tahap optimal dapat dilakukan dari berbagai sisi dan disiplin ilmu. Kebijaksanaan klasik dari Buddhisme merupakan salah satu solusi yang banyak digunakan sebagai pijakan oleh para ahli dalam menelaah masalah perkembangan kepribadian dan kesehatan psikis (Nissanka, 2002:iii). Padmal Silva dalam bukunya berjudul “Buddhist psychology: A review of theory and practice” menyatakan bahwa perkembangan kepribadian dan berbagai hal yang berkaitan dengan psikologi banyak dibahas dalam Buddhisme. Berbagai tema kajian ilmu psikologi seperti motif, kognisi, persepsi, kesadaran, perkembangan kepribadian serta berbagai teknik meditasi pendukung perkembangan kepribadian dibahas secara tuntas (Buddhist psychological notions including: basic drives that motivate behavior, perception and cognition, consciousness, personal development and enlightenment, meditation, and behavior change) (Silva, 1990:236). Perkembangan kepribadian dilakukan melalui berbagai cara dan bermuara pada meditasi (bhavana) sebagai teknik yang unik karena tidak terdapat dalam sistem pendidikan modern. Meditasi sebagai jalan praktis menuju kebijaksanaan sebagai puncak dari perkembangan kepribadian merupakan warisan gagasan Buddha yang memperhatikan perbedaan metode pada karakter anak didik yang berbeda.

Makalah ini akan menjelaskan mengenai teknik pengembangan kepribadian dari perspektif Buddhis. Metode kajian yang digunakan lebih condong pada  kajian pustaka dengan perpaduan pendekatan analisis wacana, fenomenologi serta puggala pannati.

Baca Selengkapnya...

Share: