SAMBUTAN MENTERI AGAMA Rl

PADA PERINGATAN HARI TRI SUCIWAISAK 2563 TAHUN 2019  CANDI SEWU,

SABTU, 18 MEI 2019

 

Assalamu'alaikum wr. wb.

Namo Buddhaya,

Sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya, pada hari ini, saya mendapatkan sebuah pengalaman berharga dari umat Buddha Indonesia, dimana tepat pada saat menjeiang purnama, saya dapat menghadiri acara Peringatan Tri Suci Waisak di tiga tempat yang berbeda.

Untuk itu, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya untuk kita dan seluruh Umat Buddha Indonesia.

Sebagaimana kita tahu, tanggal 19 Mei 2019 Umat Buadha memperingati Hari Tri Suci Waisak, tiga momentum penting, yaitu: kelahiran orang suci, pencapaian kebuddhaan, dan meninggalnya Buddha Gotama. Untuk itu, saya selaku Menteri Agama, menyampaikan ucapan ”Selamat Memperingati Tri Suci aisak” kepada seluruh Umat Buddha di Indonesia, moga berkah Tri Suci Waisak membawa bahagiaan dan kedamaian bagi umat manusia.

Melalui momentum Tri Suci Waisak ini, saya jngajak kepada setiap umat beragama untuk mbali mengingat akan hak dan kewajibannya bagai warga negara. Hal ini menjadi sangat nting agar hak dan kewajiban konstitusional bagaimana tertuang di dalam Undang-Undang isar 1945, yang menjadi tanggungjawabnya dapat aksanakan dengan baik. Salah satu hak dan wajiban konstitusional itu adalah Bela Negara, eh karena itu, saya melihat tema peringatan Tri ici Waisak tahun 2019 ini, yaitu ”Mencintai Tanah lndonesia" sangatlah tepat.

Buddha mengajarkan kepada para siswanya agar memiliki kecintaan terhadap tanah air, dimana mereka lahir dan tinggal untuk tumbuh berkembang. Beliau juga memberikan kebebasan kepada para siswanya dalam mempelajari Dharma dengan bahasanya sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa perkembangan agama Buddha di belahan dunia memiliki budaya yang berbeda. Demikian pula di Indonesia, sejak kejayaan Sriwijaya hingga karang, perkembangan agama Buddha tidak merubah budaya yang menjadi kekayaan bangsa.

Pesan penting yang dapat kita petik adalah jika setiap warga negara sadar memiliki bangsanya, maka negara akan kuat. Di dalam diri setiap warga negara, hakikatnya, memiliki rasa empati terhadap sistem yang ada. Rasa empati itu adalah fitrahnya sebagai manusia dan juga karena ajaran agama yang diyakini. Kita semua memahami pada dasarnya setiap agama mengajak sesama manusia untuk membangun kerukunan demi menciptakan damaian.

Agama harus mampu membentuk pribadi yang moderat, yang dapat memahami teks dalam konteks yang tepat. Apabila agama dipahami secara fanatik yang ekstrim akan dapat menimbulkan sikap dan perilaku eksklusif umatnya terhadap negaranya. Sikap dan perilaku aksklusif, macam itu kemudian dapat membentuk paham yang hanya berorientasi pada Ego dirinya sendiri dan membangun polaritas dalam sistem negara.  Sikap dan perilaku aksklusif, itu pula yang dapat menimbulkan konflik antar umat yang berbeda dengannya. Keadaan seperti itu terjadi karena ajaran yang dipahami telah mengalami penyimpangan akibat kesalahpahaman, sehingga ajaran semacam itu menjadikan pemeluknya tidak peduli lagi dengan sistem negara yang dibuat untuk merukunkan warga negaranya.

Kedamaian suatu negara akan tercapai jika tiap individu dapat mengamankan dirinya, menjalankan kehidupannya tanpa kebencian, hingga kedamaian dapat dimulai dari diri sendiri dan berkembang dalam lingkungan yang lebih luas. Setiap kita harus dapat menjadi warga negara yang taat beragama. Dengan ketaatan itu maka setiap kita akan dapat mencintai tanah air Indonesia.

Buddha mengajarkan kepada umat manusia, sebagaimana tertuang di dalam kitab Dhammapada syair 197, orang akan hidup berbahagia karena tanpa membenci di tengah-tengah orang yang penuh kebencian. Di antara orang-orang yang saling membenci, kita hidup tanpa kebencian.

Teladanilah perjalanan kehidupan Buddha Gotama, yang merupakan figur perdamaian, yang senantiasa mengajarkan pentingnya menjaga keselarasan dan keharmonisan hidup sesama umat manusia. Purnama di bulan Waisak adalah saat yang baik bagi setiap umat Buddha untuk merenungkan kembali pesan-pesan Dhamma yang membawa keutamaan hidup dan kedamaian pada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.

Saya percaya bahwa Umat Buddha, dengan praktek Dhamma dapat melihat secara obyektif atas kebhinnekaan yang ada di Indonesia; suku, agama, ras, dan antargolongan, akan terus menciptakan kerukunan dalam kehidupan berbangsa, bemegara, dan beragama, dengan senantiasa mengutamakan pikiran, ucapan, dan perbuatan yang didasari cinta kasih, saling berbagi, tidak saling menyakiti, dan menghargai segala bentuk perbedaan.

Akhirnya, kepada segenap umat Buddha, sekali lagi, saya mengucapkan selamat Hari Tri Suci Waisak 2563 Tahun 2019. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi kita semua.   

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Sekian terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb

Namo Buddhaya.

 

Boyolali, 18 Mei 2019

Menteri Agama Rl

Lukman Hakim Saifuddin

Share: