Mendukung Kesetaraan dan Keadilan Gender,  Sangha Agung Indonesia Kembali Mengadakan Konferensi Internasional

 

Setelah sukses menyelenggarakan Konferensi Internasional Sakyadhita ke-14 di Yogyakarta pada tahun 2015, Sangha Agung Indonesia, bekerjasama dengan Buddhasavika Foundation - Thailand yang didukung oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Republik Indonesia, Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) dan STIAB Smaratungga serta Prasadha Jinarakkhita Buddhist Institute (PJBI), kembali mengadakan konferensi international (tingkat Asia) dengan nama 3rd Asian Buddhism Connection atau lebih dikenal dengan sebutan ABC ke-3. Konferensi ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, tokoh-tokoh lintas agama, biksu dan biksuni Sangha serta umat Buddha dari 16 negara Asia dan Australia, yaitu: Australia, Bangladesh, Bhutan, Hongkong, India, Kamboja, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Taiwan, Thailand, Sri Lanka dan Vietnam, termasuk Indonesia. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI Caliadi, SH, MH secara resmi membuka konferensi ini dengan pemukulan gong.

ABC yang pada awalnya merupakan singkatan dari ASEAN Buddhist Conference kini diubah menjadi Asian Buddhism Connection untuk memenuhi kebutuhan akan pemahaman terhadap nilai-nilai ajaran Buddha yang universal. Hal ini bertujuan untuk menginspirasi dunia agar menjadi lebih baik. Selain itu, ABC juga bertujuan untuk menghimpun pemikiran generasi muda agar lebih mengarah pada pendalaman pengetahuan tentang agama Buddha dan prinsip ajaran Buddha, baik pada masa lalu, sekarang maupun pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, agama Buddha di Asia saat ini membutuhkan penguatan pada bidang gender, pendidikan, kehidupan monastik dan filosofi.

ABC yang telah dilaksanakan di Universitas Rajabhat, Nakhonpathom Thailand pada tahun 2015 dan 2016 secara berturut-turut mendapatkan respon yang baik dari umat Buddha Indonesia. Oleh sebab itu, ABC ke-3 diadakan di Indonesia oleh Sangha Agung Indonesia. ABC ke-3 dilaksanakan pada tanggal 15 s/d 17 September 2018 di Prasadha Jinarakkhita, Jakarta-Indonesia dengan tema “Agama Buddha, Perempuan dan Pendidikan.” Alasan dipilihnya tema ini, karena perempuan adalah salah satu guru pertama bagi manusia, tidak ada manusia yang mampu tumbuh dan berkembang tanpa adanya pendidikan. Sebagai perempuan Buddhis, tentu pengetahuan tentang agama Buddha sangat diperlukan untuk menghasilkan generasi yang berakhlak baik. Bagaimana pokok permasalahan ini menurut perspektif Buddhis akan disampaikan dalam konferensi ini melalui berbagai subtema, diantaranya:

  • Education in Early Buddhism (Pendidikan di Buddhisme Awal);
  • The BhikkhunÄ«s: Monastic Education and Training (Biksuni: Pendidikan Monastik dan Pelatihan);
  • The Contribution of Female Royalty in Buddhism (Kontribusi Perempuan Bangsawan bagi Agama Buddha);
  • The Contribution of Women in Asian Buddhism (Kontribusi Wanita bagi Agama Buddha di Asia); dan
  • Buddhism in Indonesia: Past and Present (Agama Buddha di Indonesia: Masa Lalu dan Saat ini).

Empat puluh lima pembicara dari 16 negara Asia dan Australia menyajikan pengetahuan dan berbagi pengalamannya kepada empat ratusan peserta dari kalangan monastik, akademisi, praktisi, pengamat, berasal dari berbagai negara Asia dan Australia. Diantara keempat puluh lima pembicara tersebut, terdapat dua pembicara utama, yaitu Y.A. Ajahn Sujato (Australia) dan Y.A. Biksu Nyanasuryanadi Mahāthera (Nayaka Theravada Sangha Agung Indonesia).

Y.A. Ajahn Sujato menekankan pentingnya mendorong dan mendukung aspirasi perempuan untuk berlatih kehidupan spiritual, karena dengan mendorong dan mendukung aspirasi perempuan untuk berlatih kehidupan spiritual, berarti mengangkat semua perempuan. Dan ketika mengangkat semua perempuan, itu artinya mengangkat laki-laki juga. Ini bukan permainan zero-sum. Ia berkata: “Memberikan teladan kepada komunitas, menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan, sama dengan laki-laki, dapat menjadi bijaksana, welas asih, dan kuat. Ketika kita membawa putri-putri kita ke wihara, mereka dapat melihat kualitas-kualitas yang terwujud dalam perempuan. Mereka dapat mendengar perempuan mengajar, perempuan diperlakukan dengan hormat, dan perempuan sebagai pemimpin. Kemudian mereka tahu bahwa mereka juga dapat melakukan hal-hal tersebut.”

Sejalan dengan Y.A. Ajahn Sujato, Y.A. Nyanasuryanadi Mahathera mengikuti jejak sang guru yang merupakan pelopor kebangkitan Agama Buddha di Indonesia, Y.A. Ashin Jinarakkhita Mahathera,  juga memberikan kesempatan yang sama terhadap perempuan untuk berlatih. Adanya pro kontra mengenai terbentuknya sangha biksuni Therawada masih menjadi perdebatan. Dalam hal ini, ternyata masih terdapat orang-orang yang dengan tekad baik memberanikan diri agar perempuan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berlatih dan mencapai kemajuan spiritual tertinggi. Semasa hidupnya, Y.A. Ashin Jinarakkhita Mahathera (mendiang) juga memberikan pentahbisan samaneri menurut tradisi Therawada. Tenggelamnya garis pentahbisan Sangha Biksuni tradisi Therawada sejak abad ke-11 menyebabkan perempuan hanya bisa menjadi anagarini (biarawati yang menjalankan delapan/sepuluh aturan moral). Setelah wafatnya Y.A. Ashin Jinarakkhita Mahathera, pada tahun 2008 pentahbisan samaneri menurut tradisi Therawada di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Y.A. Nyanasuryanadi Mahathera. Kebangkitan kembali Sangha Bhikkhuni Therawada tentu menimbulkan pro kontra. Dalam hal ini Y.A. Nyanasuryanadi Mahathera memberikan jawaban yang sederhana bahwa: “Pria dan wanita memiliki potensial yang sama dalam menjalani kehidupan spiritual.”

Di hari terakhir acara ABC, yaitu tanggal 17 September 2018 merupakan salah satu momen penting dari rangkaian acara selama tiga hari, karena bertepatan dengan hari wafatnya tokoh emansipasi wanita Indonesia, R.A. Kartini. Maka di hari terakhir, selain melakukan penghormatan kepada mendiang Y.A. Ashin Jinarakkhita Mahathera, juga melakukan doa pelimpahan jasa untuk mendiang R.A. Kartini  yang telah berhasil membawa perubahan besar untuk mengangkat derajat kaum perempuan Indonesia.

 

Lihat Video Conference 3rd Asian Buddhism Connection 2018

Lihat Foto-Foto 3rd Asian Buddhism Connection 2018

Share: