GRHA OIKOUMENE, JAKARTA PUSAT- Usai pelantikan Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo menegaskan  bahwa UKP-PIP bukan indoktrinasi seperti Pedoman Pengamalan dan Penghayatan Pancasila (P4) . Produk UKP-PIP ini akan disesuaikan dengan perkembangan zaman serta kondisi masyarakat saat ini. Bentuknya beragam misalnya di kalangan anak muda bisa melalui Video di Facebook atau video Blog di Youtube hingga berbentuk komik, ujar Presiden seperti yang dikutip dari Fabian, laman kompas.com 6/6/2017. 

Belum satu bulan program ini dicanangkan, bertempat di Grha Uokumene, Jakarta Pusat, Gabungan dari beberapa organisasi masyarakat, basis sosial dan keagamaan menyambut baik dengan menggelar acara bertajuk "Bergerak dan Bertindak Membangun Habitus Pancasila". Beberapa logo perwakilan PBNU, PGI, KWI, PHDI, MATAKIN, PENGHAYAT, ICRP, ANBTI, DBTI, MAARIF INSTITUTE, AMERTA, FMKI, JKLPK, PIKI, INTERFIDEI, HIKMAHBUDHI, dan AKUR ditampilkan di layar panggung.

Acara diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Pembacaan Pancasila dan Pembukaan Undang-undang Dasar tahun 1945 dan sambutan tuan Rumah (PGI). Performan art Pancasila dari AKUR Sunda Wiwitan, menambah semangat dan haru yang mendalam.

Setelah laporan panita Focus Group Discussion (FGD), Yudi Latif, Ph.D, selaku Ketua Pelaksana UKP-PIP memberikan tanggapan. Dibuka dengan salam kebangsaan beserta penjelasan yang diambil dari Maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945, hingga kini masih berlaku. "Tangan diangkat setinggi telinga, jari lima berjajar, dan suara mengguntur 'MERDEKA', artinya negara kita telah merdeka." 

Dalam tanggapannya Yudi memberikan apresiasi dan bersemangat atas tanggapan positif masyarakat. Upaya-upaya tindak lanjut komunitas seperti ini sangat dibutuhkan. Selain itu pelurusan hal-hal terkait sejarah baik yang tertuang dalam buku pelajaran kemendikbud maupun kegiatan-kegiatan kemenag, UKP-PIP akan berkoordinasi kembali dengan kedua lembaga negara ini. 

Acara ditutup dengan doa lintas iman. Doa-doa dikumandangkan baik dari keyakinan "lokal" maupun agama-agama "impor" yang ada di Indonesia, seperti Akur-Sunda Wiwitan, Buddha, Katolik, Kristen, Konghuchu, Sikh, Hindu, Baha'i, dan Islam. Doa dalam agama Buddha diwaliki oleh Biksu Dr. Sulaiman Girivirya, M.Pd.  "Terpujilah Sanghyang Adi Buddha, Ketuhanan Yang Maha Esa. Para Guru Spiritual dari masa lalu, saat ini, dan yang akan datang. Semoga pertemuan ini menginisiasi dan menginspirasi para peserta yang ada di ruangan dan seluruh anak bangsa untuk bersatu dalam harmoni. Semoga semua makhluk hidup berbahagia dan kebahagiaan semua makhluk adalah tanggung jawab kita bersama, sadhu, sadhu, sadhu." Doa terakhir ditutup dari perwakilan Muslim sembari berdoa menjelang buka puasa. 

 

 

Share: